{"id":13224,"date":"2019-11-27T02:28:19","date_gmt":"2019-11-27T02:28:19","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=13224"},"modified":"2019-11-27T02:28:19","modified_gmt":"2019-11-27T02:28:19","slug":"peran-marinir-menjaga-kedaulatan-nkri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=13224","title":{"rendered":"Peran Marinir Menjaga kedaulatan NKRI"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-13225\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/WhatsApp-Image-2019-11-25-at-09.55.58.jpeg\" alt=\"\" width=\"1040\" height=\"493\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pesawaran:<\/strong> Bertempat di Komplek Marine Eco Parks \u2013 Kawasan Brigif 4 Marinir Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Propinsi Lampung, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Lampung menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) ke III dan Akademi Da\u2019i Wasathiyah (ADW) Angkatan II, Jumat \u2013 Ahad, 22 \u2013 24 Nopember 2019 lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hari kedua, Sabtu (23\/11) lalu, materi disampaikan tentang Sea Power dan Naval Power oleh Komandan Brigif 4 Marinir Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Propinsi Lampung Kolenel Marinir Ahmad Fajar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Didepan para empat puluh delapan peserta, ia menyampaikan, peran Marnir dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ada yang ditugaskan didalam maupun luar negeri, TNI AL berkontribusi kepada luar negeri untuk keamanan dunia<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masih menurut Kolonel Marinir Ahmad Fajar, kita harus bersyukur tinggal di Indonesia, luas Laut Indonesia 5.9 juta KM2, panjang pantai 81.000 km, luas darat 1.9 Juta KM2, jumlah pulau : 17.504 buah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPotensi laut Indonesia harus dimaksimalkan sebaik mungkin sesuai dengan Visi dan Misi Presiden Republik Indonesia Joko Widodo\u201d, tambah prajurit TNI AL yang pernah ditugaskan di Satgas Rensa XXV NAD tahun 2004 ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cLalu lintas laut didunia juga sudah diatur, termasuk wilayah perairan Indonesia, terutama diselat Malaka, selain di selat Lombok, selat Makassar, dan selat Sunda. Karena Indonesia adalah negara Kepulauaan terbesar didunia sesuai keputusan konvensi PBB tentang Hukum Laut \/ UNCLOS 1982\u201d, tambah prajurit TNI AL alumni Sesko TNI Angkatan 45 tahun 2018 ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam menjaga kedaulatan NKRI ada Enam elemen penting Sea Power, yaitu; (kekuatan laut); posisi geografis, bentuk fisik, luas wilayah, jumlah penduduk, karakter bangsa, karakter pemerintah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSea power bertujuan sebagai kontrol terhadap perdagangan dan perekonomian internasional. Penggunaan dan kontrol sumber daya laut dan juga sebagai instrumen diplomasi, penangkalan, dan pengaruh politik\u201d tambahnya yang pernah bertugas di Natuna tahun 1999 ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSea Power di Indonesia terpadu dan saling mendukung, mencakup segala potensi kekuatan nasional yang menggunakan laut sebagai wahananya\u201d, tambah prajurit TNI AL yang pernah bertugas di Timor Timur tahun 1995.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cNaval Power atau kekuatan Angkatan Laut di Indonesia berdiri sejak 10 September 1945, yang kini memiliki punya 3 armada, yaitu; di Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Perak Surabaya, Tanjung Kasuari Sorong Papua\u201d tutup Prajurit TNI AL kelahiran Magelang Jawa Tengah. (Akhmad Syarief Kurniawan)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pesawaran: Bertempat di Komplek Marine Eco Parks \u2013 Kawasan Brigif 4 Marinir Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Propinsi Lampung, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Lampung menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) ke III dan Akademi Da\u2019i Wasathiyah (ADW) Angkatan II, Jumat \u2013 Ahad, 22 \u2013 24 Nopember 2019 lalu. Hari kedua, Sabtu (23\/11) lalu, materi disampaikan tentang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13225,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-13224","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13224","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13224"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13224\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13224"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13224"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13224"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}