{"id":13022,"date":"2019-10-11T22:56:09","date_gmt":"2019-10-11T22:56:09","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=13022"},"modified":"2019-10-11T22:56:09","modified_gmt":"2019-10-11T22:56:09","slug":"rakornas-mui-2019-kh-maruf-amin-tanggung-jawab-mui-himayah-wal-himayah-wal-himayah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=13022","title":{"rendered":"Rakornas MUI 2019, KH. Ma\u2019ruf Amin: Tanggung Jawab MUI \u201cHimayah wal Himayah wal Himayah\u201d"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-13023 aligncenter\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/DSC_0961-750x526.jpg\" alt=\"\" width=\"750\" height=\"526\" \/><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Lombok:<\/strong> Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma\u2019ruf Amin berpesan kepada para pengurus dari berbagai daerah bahwa MUI memiliki tiga tanggung jawab penting. Tiga tanggung jawab itu berkaitan dengan soal \u2018himayah\u2019.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Himayah dalam bahasa Arab berarti melindungi atau menjaga. Himayah pertama, kata kiai, adalah menjaga agama. Himayah kedua adalah menjaga umat. Himayah ketiga adalah menjaga negara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam menjalankan tugas himayah yang pertama, MUI harus konsisten dengan prinsip dan cara berpikir wasathiyyah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cWasathiyyah merupakan amanat Munas 2015. Amanat ini masih tetap relevan, agar dipahami dan diyakini,\u201d kata kiai, Jumat (11\/10) dalam forum Rakernas di area Masjid Nurul Bilad, Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam menjaga umat, ungkap Kiai Ma\u2019ruf, tugas MUI adalah menjaga umat dari akidah yang menyimpang. Untuk itu, MUI terus membuat kriteria-kriteria khusus terkait pemahaman menyimpang sehingga menjaga umat agar tidak terprovokasi dari akidah yang menyimpang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKita juga menjaga umat dari cara berpikir yang menyimpang yang tidak sesuai dengan ajaran ulama terdahulu,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Contoh lain pelayanan kepada umat, kata kiai, adalah dengan menjaga umat dari mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak halal. Termasuk juga mengembangkan ekonomi syariah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKita juga menjaga umat dari dhuafa dan mustad\u2019ain. Jangan meninggalkan anak cucu yang lemah,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengabdian ketiga, kata kiai, MUI menjaga negara agar negara tetap utuh. Konsep menjaga negara ini adalah dengan menjaga kesepakatan nasional atau al-mitsaq. Bahwa terbentuknya negara ini lahir dari kesepakatan para pendiri bangsa. Kesepakatan itu terwujud dalam Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, serta Bhinneka Tunggal Ika.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMUI juga menjaga negara. Semua berada di dalam wilayah kesepakatan yaitu kesepakatan nasional atau berada di dalam al-mitsaq al-wathaniy,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMUI akan terus mengawal kesepakatan ini supaya tidak ada tindakan dan langkah yang menyalahi kesepaktan sehingga terjadi kegaduhan dimana-mana. Hal inilah yang merupakan tanggung jawab MUI baik \u2018himayatut din\u2019 (menjaga agama), \u2018himayatul ummah\u2019 (menjaga umat), maupun \u2018himayatut daulah\u2019 (menjaga negara),\u201d demikian Kiai Ma\u2019ruf Amin. (Azhar\/Anam)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lombok: Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma\u2019ruf Amin berpesan kepada para pengurus dari berbagai daerah bahwa MUI memiliki tiga tanggung jawab penting. Tiga tanggung jawab itu berkaitan dengan soal \u2018himayah\u2019. Himayah dalam bahasa Arab berarti melindungi atau menjaga. Himayah pertama, kata kiai, adalah menjaga agama. Himayah kedua adalah menjaga umat. Himayah ketiga adalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13023,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-13022","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13022","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13022"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13022\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13022"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13022"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13022"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}