{"id":1148,"date":"2016-07-07T16:11:57","date_gmt":"2016-07-07T16:11:57","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=1148"},"modified":"2016-07-07T16:11:57","modified_gmt":"2016-07-07T16:11:57","slug":"ketua-umum-mui-lampung-khutbah-idul-fitri-di-perum-way-kandis-bandar-lampung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=1148","title":{"rendered":"Ketua Umum MUI Lampung Khutbah Idul Fitri di Perum Way Kandis Bandar Lampung"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-967\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/Firkah.jpg\" alt=\"Firkah\" width=\"3155\" height=\"1653\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bandar Lampung: Ribuan umat Islam di lingkungan Perum Way Kandis<!--more-->, Tanjung\u00a0Senang, Bandar Lampung, Rabu (6\/7), menggelar Shalat Idul Fitri 1437 H di\u00a0halaman Masjid Khairunnas, dengan imam dan khatib Ketua Umum Majelis Ulama\u00a0Indonesia (MUI) Lampung Dr. KH Khairuddin Tahmid, MH.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam khutbah Idul Fitri, Dr. KH. Khairudin Tahmid, MH mengingatkan para jamaah tentang pentingnya pengendalian hawa nafsu sesuai hadis Nabi Saw. <em>&#8220;Rasulullah dalam satu pertemuan dengan para sahabatnya pernah mengungkapkan\u00a0kekhawatirannya pada tiga bahaya hawa nafsu yang bakal melanda umatnya\u00a0sampai akhir zaman nanti.Yaitu nafsu perut, libido seksual dan nafsu yang\u00a0menyesatkan.&#8221;<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSeseorang tak mampu mengendalikan nafsu perut, ia akan mengisi perutnya dengan asupan makanan dan minuman di luar batas. Padahal, perbedaan antara umat muslim dan orang kafir adalah seorang muslim tidak akan makan dan minum berlebihan. Pengendalian nafsu perut ini dilatih saat bulan Ramadan. Sedangkan nafsu libido seksual jika tak dapat dikendalikan berdampak pada perzinahan dan perselingkuhan, yang akhirnya dapat merusak kehidupan rumah tangga, menimbulkan penyakit fisik dan jiwa, dan perbuatan maksiat lainnya yang mengikuti nafsu seksual ini,\u201d kata Dr. KH. Khairuddin Tahmid, MH.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dr. KH. Khairuddin Tahmid, MH menambahkan &#8220;Ini sangat berbahaya, betapa banyak kasus perceraian dan penyimpangan seksual hanya karena manusia tidak dapat mengendalikan nafsu libido. Karena itu bulan Ramadhan adalah satu bulan <em>tarbiyah<\/em> (pendidikan) untuk mendidik manusia supaya dapat mengendalikan libidonya.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang lebih berbahaya lagi, ujarnya, &#8220;nafsu yang menyesatkan yang dapat\u00a0<span style=\"line-height: 1.5;\">menggerakkan seseorang menjadi jiwa yang tidak pernah puas. Orang yang\u00a0<\/span><span style=\"line-height: 1.5;\">terkena nafsu model ini selalu menumpuk harta, meskipun menabrak norma\u00a0<\/span><span style=\"line-height: 1.5;\">agama. Kasus-kasus korupsi yang marak terjadi saat ini dan perlombaan\u00a0<\/span><span style=\"line-height: 1.5;\">perebutan kekuasaan yang dilakukan dengan jalan yang tidak baik, karena\u00a0<\/span><span style=\"line-height: 1.5;\">pelakunya dikendalikan hawa nafsu yang menyesatkan.&#8221;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk itu, kata Dr. KH. Khairudin Tahmid, MH &#8220;bulan puasa adalah sarana yang paling baik untuk mendidik orang terhindar dari nafsu serakah ini. Ramadhan adalah bulan penuh berkah, yang di dalamnya diturunkan al-Qur\u2019an\u00a0<span style=\"line-height: 1.5;\">untuk manusia dan menjelaskan persoalan kehidupan manusia antara yang baik\u00a0<\/span><span style=\"line-height: 1.5;\">dan buruk. Untuk itu, sebagai umat Islam mari kita mempelajari isi\u00a0<\/span><span style=\"line-height: 1.5;\">al-Qur\u2019an, karena di dalamnya penuh dengan ilmu yang dapat dimanfaatkan oleh\u00a0<\/span><span style=\"line-height: 1.5;\">manusia. (Alhuda Muhajirin)<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung: Ribuan umat Islam di lingkungan Perum Way Kandis<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":967,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-1148","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1148","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1148"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1148\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1148"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1148"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1148"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}