{"id":1142,"date":"2016-07-07T15:34:01","date_gmt":"2016-07-07T15:34:01","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=1142"},"modified":"2016-07-07T15:34:01","modified_gmt":"2016-07-07T15:34:01","slug":"aktualisasi-spiritual-islam-dalam-sosial-ekonomi-ummat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=1142","title":{"rendered":"Aktualisasi Spiritual Islam dalam Sosial Ekonomi Umat"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-1143 aligncenter\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/07\/SURYANI-M-NUR-MUI-BALAM.jpg\" alt=\"SURYANI M NUR MUI BALAM\" width=\"375\" height=\"223\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Alhamdulillah, ibadah puasa ramadhan sebulan penuh telah dilaksanakan dan kini\u00a0merayakan hari kemenangan dengan beridul fitri \u00a0<!--more--> saling memaafkan. Nilai-nilai spiritualitas yang diperoleh selama bulan\u00a0ramadhan sejatinya\u00a0diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari secara\u00a0<em>universal,<\/em> termasuk dalam bidang sosial ekonomi. Agar umat\u00a0mengimplementasikan konsep Islam ke dalam kehidupan sosial ekonomi, maka al-Qur\u2019an dan as-Sunnah dijadikan sebagai pedoman. segalanya\u00a0harus\u00a0bersumber dari Allah Swt, dilakukan dengan cara atau metode\u00a0yang digariskan Allah Swt dan untuk mencari ridha Allah Swt.\u00a0 Bila tidak menemukan\u00a0dalam kedua sumber (al-Qur\u2019an dan as-Sunnah) tersebut, umat Muslim\u00a0harus\u00a0menggali, menganalogikan atau mempergunakan akalnya dengan berpedoman kepada prinsip <em>maqashid asy-syariah<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pandangan Islam, kegiatan sosial ekonomi pun berdimensi ibadah.\u00a0Implikasinya bahwa semua aktivitas sosial ekonomi yang dilakukan dengan\u00a0niat ikhlas, akan menjadi ibadah dan mendapatkan pahala, baik aktivitasnya\u00a0tersebut sukses maupun tidak.\u00a0 Berbeda dengan\u00a0 sosial ekonomi <em>konvensional<\/em>\u00a0yang menjadikan kadar <em>income<\/em>\/<em>profit<\/em>\u00a0yang akan diraih, atau\u00a0keinginan bekerja sebagai penggerak. Konsekuensinya, jika <em>income<\/em> berkurang\u00a0atau keinginan bekerja sedikit, maka aktivitasnya akan berkurang atau\u00a0berhenti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai<em> khalifatullah fil ardhi<\/em>, manusia sejatinya\u00a0menghormati seperangkat\u00a0nilai dasar yang digariskan dan diajarkan oleh Islam, yaitu:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertama, Keadilan <em>(Justice)<\/em>.\u00a0 Dalam ajaran Islam, keadilan harus ditegakkan. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Ma\u2019idah ayat 8: <em>\u201cHai orang-orang yang beriman hendaklah\u00a0kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah,\u00a0menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap\u00a0sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah,\u00a0karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah,\u00a0sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, Islam\u00a0mengajarkan untuk\u00a0menghormati hak orang lain. Berikan hak kepada pemiliknya\u00a0tanpa melebih-lebihkan atau menguranginya. Tidak boleh\u00a0berlaku zhalim, baik dalam mendapatkan maupun mengelola harta.\u00a0 Islam\u00a0meletakkan beberapa nilai instrumental yang diperlukan oleh sistem\u00a0ekonomi, antara lain: 1). Perintah untuk beramal saleh. Bagi setiap Muslim,\u00a0hukumnya \u00a0<em>fardhu\u00a0<\/em><em>\u2018ain<\/em>\u00a0mencari nafkah untuk kehidupan diri dan keluarga dengan bekerja yang\u00a0baik sesuai kemampuan <em>skill<\/em>\/profesi masing-masing yang produktif dan\u00a0membawa manfaat bagi sesama; 2). Perintah zakat, infaq dan shadaqah.\u00a0 Orang\u00a0kaya sejatinya\u00a0berbagi kebahagiaan dengan berbagi sebagian kekayaannya kepada orang miskin. Aktivitas ini\u00a0dapat menghapus kesenjangan sosial antara orang\u00a0kaya dan orang\u00a0miskin, dan dapat\u00a0menciptakan redistribusi yang merata serta\u00a0dapat membantu mengekang laju\u00a0<em>inflasi<\/em>. Hal ini pun akan berimplikasi sosial memperkuat tali kasih sayang, sehingga kohesivitas antara anggota masyarakat akan semakin kuat dan solid; 3). Perintah untuk bekerjasama. Seseorang yang memiliki <em>skill<\/em> dan\u00a0berkeahlian bisnis tapi tidak memiliki modal bisa menjalin kerjasama dengan\u00a0seseorang yang memiliki modal tapi tidak berkeahlian. Sehingga kerjasama\u00a0keduanya akan produktif dan menguntungkan kedua belah pihak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua,\u00a0 Kepemilikan (<em>ownership<\/em>).\u00a0 Dalam ajaran Islam, kepemilikan hakiki\u00a0dari segala sesuatu adalah Allah Swt, sebagaimana dijelaskan dalam Q.S.\u00a0Al-Baqarah ayat\u00a0107:\u00a0<em>\u201c &#8230;Tiadakah kamu mengetahui\u00a0<\/em><em>bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu\u00a0<\/em><em>selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.&#8221;<\/em>\u00a0Sedangkan\u00a0kepemilikan oleh manusia adalah relatif. Oleh karenanya kepemilikan harus\u00a0memiliki dua fungsi yakni fungsi individual dan fungsi sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketiga, Persaudaraan dan kebersamaan.\u00a0 Dalam ajaran Islam manusia itu\u00a0bersaudara. Mereka sama-sama diciptakan dari tanah, sebagaimana firman\u00a0Allah Swt dalam Q.S.\u00a0Al An\u2019am\u00a0ayat\u00a02:\u00a0<em>\u201cDialah Yang\u00a0<\/em><em>menciptakan kamu dari tanah, \u2026.&#8221;,<\/em>\u00a0Manusia sama-sama keturunan\u00a0Adam, sebagaimana firman Allah Swt dalam Q.S.\u00a0An-Nisa\u2019\u00a0ayat\u00a01:\u00a0<em>\u201c&#8230;Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah\u00a0<\/em><em>menciptakan kamu dari seorang diri,\u00a0&#8230;&#8221;<\/em>. Oleh karenanya, Islam menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan kebersamaan, termasuk dalam\u00a0perilaku sosial ekonomi.\u00a0Manusia tidak boleh berbuat anti sosial yang\u00a0akan merusak dirinya dan orang lain (<em>laa dharara wa laa dhirara<\/em>),\u00a0 tetapi\u00a0harus mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan kebersamaan antara sesama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk\u00a0 menciptakan keadilan, kepemilikan dan kebersamaan\/kerjasama\u00a0tersebut lebih produktif, tenteram, aman, damai dan kondusif,\u00a0 Allah Swt pun\u00a0mengeluarkan larangan-larangan, seperti praktik <em>ribawi<\/em>, <em>ihtikar<\/em> (praktik\u00a0menimbun barang dengan harapan akan mendapatkan keuntungan yang berlipat),\u00a0<em>iktinaz<\/em> (praktik menarik uang dari peredaran dan menyimpannya dengan\u00a0harapan mendapatkan keuntungan lebih besar), berbohong, menipu, ingkar\u00a0janji, tidak jujur, mencuri, berjudi, mubadzir dan <em>israf.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kondisi riil dan realitas dalam kehidupan masyarakat saat ini masih banyak\u00a0pelaku ekonomi yang beragama Islam khususnya, tapi praktik muamalahnya tidak\u00a0sesuai dengan ajaran Islam. Mereka masih banyak yang melakukan pelanggaran\u00a0terhadap hak milik, praktik <em>ribawi<\/em>, tindak korupsi, dan lainnya. Masih\u00a0banyak umat Islam yang belum memahami konsep ekonomi Islam.\u00a0 Sehingga mereka\u00a0masih lebih memilih konsep ekonomi\/bisnis konvensional dari pada syariah.\u00a0 Ini\u00a0adalah tugas dan kewajiban semua umat Islam untuk\u00a0 melakukan edukasi dengan\u00a0menjelaskan dan mensosialisasikan melalui berbagai cara dan media tentang\u00a0konsep ekonomi Islam\/syariah.\u00a0 Karena konsep syariah jelas lebih baik\u00a0daripada konsep <em>konvensional<\/em>. Karena konsep syariah berorientasi pada\u00a0kehidupan <em>hasanah fiddunya wal akhirah<\/em>.<\/p>\n<table style=\"height: 98px;\" width=\"708\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"121\">Penulis<\/td>\n<td width=\"445\">Dr.\u00a9 Suryani M. Nur, S.Sos., MM Ketua MUI Kota Bandar Lampung<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"121\">Editor<\/td>\n<td width=\"445\">Abdul Qodir Zaelani<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Alhamdulillah, ibadah puasa ramadhan sebulan penuh telah dilaksanakan dan kini\u00a0merayakan hari kemenangan dengan beridul fitri \u00a0<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1143,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,44],"tags":[],"class_list":["post-1142","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-opini"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1142","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1142"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1142\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1142"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1142"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1142"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}