{"id":10668,"date":"2018-11-11T00:56:41","date_gmt":"2018-11-11T00:56:41","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=10668"},"modified":"2018-11-11T00:56:41","modified_gmt":"2018-11-11T00:56:41","slug":"nutrisi-untuk-lansia-prasejahtera-di-panjang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=10668","title":{"rendered":"Nutrisi untuk Lansia Prasejahtera di Panjang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-10669\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/IMG-20181103-WA0207.jpg\" alt=\"\" width=\"1280\" height=\"1038\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bandar Lampung:<\/strong> Kami disambut gerimis ketika memasuki jalan menuju Kampung Teluk Harapan dan Rawa Laut Kelurahan Panjang Selatan pada Jum&#8217;at, (02\/11\/2018).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Deretan kafe dan tempat karaoke seakan memberitahu bahwa denyut kehidupan penduduknya masih ada, terutama ketika senja tiba, ornamen lampu warna-warni dan dentuman musik menjadi sajian wajib dilokasi ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Diantara deretan bangunan tersebut, sesekali melintas pria paruh baya mendorong gerobak drigen air.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kampung ini juga menjadi lalu lintas warga yang akan memancing. Ada dua dermaga yang digunakan untuk kapal membuang sauhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahkan kapal-kapal tersebut digunakan untuk antar jemput awak kapal tongkang yang tak bisa merapat karena dangkalnya pantai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aroma air laut mulai terasa ketika memasuki gang sempit Kampung Rawa Laut. Tim Global Zakat ACT Lampung menemui Bapak Supardi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pria 73 tahun ini setiap hari harus bertahan dibawah terik matahari untuk mengambil sampah plastik dipinggir pantai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sampah plastik dibersihkan kemudian dijual kembali. Dalam sehari hanya mampu mengumpulkan 5 kg sampah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan penghasilan dibawah 20 ribu perhari, dirinya harus merawat 2 cucunya. Salah satunya Sela (12 tahun) harus rela ditinggalkan ayah dan ibu sejak kecil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua orang tuanya meninggal dunia. Kini cucu Pak Supardi tersebut bersekolah di Pesantren tidak jauh dari rumah tersebut..<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah berbincang dengan Pak Supardi, relawan Global Zakat menyerahkan sepaket nutrisi Nasi, Pecel Lele, Sambal dan Lalapan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rasa syukur terus disampaikan kepada hamba Allah yang dengan ikhlas mengirim makanan tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSehari-hari nyerokin sampah plastik di pantai. Sehari paling banyak dapat 5 kg. Hanya itu yang menopang hidup kami sekeluarga. Rumah ini ditinggali 4 orang, cucu saya (Sela) Yatim Piatu, Sekolah di Pesantren sebelah sana yang biayanya terjangkau, \u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak berselang lama, relawan tiba dikediaman Mbah Nurmadi (63 tahun). Kami diajak memasuki rumah papan sangat sempit. Pengalamanya menjadi tukang becak tak terlupakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski sudah bertaruh otot, pekerjaanya tak membuahkan hasil. Akhirnya dirinya banting stir memelihara kambing sejak tahun 2004.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbekal modal sepasang kambing dari orang yang dikenalnya, kini Mbah Nurmadi menggantungkan hidup dari bagi hasil kambing peliharaanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski makan dan kehidupan yang terbatas, pria berusia 63 tahun tetap semangat menjalani hidup sendirian dirumah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAnak saya sudah berkeluarga tinggal jauh dari sini, istri saya sudah meninggal dunia tahun 2000, Setiap hari ngarit, cari rumput kira-kira sejam pulang pergi dari sini, tapi mbah bersyukur semoga panjang umur semua. Makanan ini saya terima,\u201d ucapnya sambil terisak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal senada juga diceritakan Mbah Sri Maryamah yang beralamat di RT II Lingkungan 1 Kampung Rawa Laut Panjang Selatan Kecamatan Panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bertahan hidup dirumah papan tepat pinggir pantai Teluk Harapan, Mbak Sri hanya menggantungkan hidup dari berjualan toko kelontong kecil-kecilan, itupun sepi pembeli.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cuaca panas membuatnya hanya termangu diteras rumah beralas papan. Deburan ombak sayup-sayup terdengar. Mbah Sri duduk sendirian dikursi sofa usang. Beberapa bagian sofa itu tampak mengelupas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wanita 69 tahun ini mengaku makan sayur nangka sejak pagi. Tekstur keras dan rasa hambar semakin membuat harinya pilu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun gelak tawa tampak ketika relawan menyodorkan paket nutrisi. Suapan demi suapan membuat debur ombak terasa semakin syahdu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mbah Sri Maryamah sosok tegar menjalani masa tua dikawasan ex lokalisasi tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAlhamdulillah ada yang nganter makanan, Mbah ini tak ada yang perhatian lagi. Mbah hanya bisa pasrah,\u201d ucapnya sambil berlinang air mata. (Rudi Santoso)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung: Kami disambut gerimis ketika memasuki jalan menuju Kampung Teluk Harapan dan Rawa Laut Kelurahan Panjang Selatan pada Jum&#8217;at, (02\/11\/2018). Deretan kafe dan tempat karaoke seakan memberitahu bahwa denyut kehidupan penduduknya masih ada, terutama ketika senja tiba, ornamen lampu warna-warni dan dentuman musik menjadi sajian wajib dilokasi ini. Diantara deretan bangunan tersebut, sesekali melintas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10669,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-10668","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10668","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10668"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10668\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10668"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10668"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10668"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}