{"id":1062,"date":"2016-07-03T06:00:52","date_gmt":"2016-07-03T06:00:52","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=1062"},"modified":"2016-07-03T06:00:52","modified_gmt":"2016-07-03T06:00:52","slug":"mui-jangan-ada-larangan-takbir-keliling-ini-tradisi-islam-indonesia-dan-sudah-jadi-syiar-lebaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=1062","title":{"rendered":"MUI: Jangan Ada Larangan Takbir Keliling, Ini Tradisi Islam Indonesia Dan Sudah Jadi Syiar Lebaran !"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\">\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-1063 aligncenter\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/07\/takbiran-aceh261109resize.jpg\" alt=\"BANDA ACEH, 27\/11 - TAKBIRAN IDUL ADHA. Remaja masjid mengikuti pawai takbiran Idul Adha 1430 Hijiriah di Banda Aceh, Kamis (26\/11). Ribuan warga dan ratusan kendaraan ruda dua dan empat di ibukota Provinsi Aceh itu mengikuti pawai takbiran keliling kota.FOTO ANTARA\/Irwansyah Putra\/ed\/hp\/09.\" width=\"600\" height=\"383\" \/><\/p>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jakarta: Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta supaya tidak ada larangan takbir keliling menyambut Idul Fitri 1 Syawal 1437 H mendatang. Menurut MUI takbir keliling merupakan tradisi umat Islam Indonesia dan telah menjadi syiar menjelang lebaran.<\/div>\n<p><!--more--><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cKita harapkan pemerintah daerah jangan ada larangan umat Islam melakukan takbir keliling. Supaya umat Islam merasakan kegembiraan menyambut hari raya Idul Fitri, termasuk di DKI,\u201d ungkap Ketua Umum MUI KH Ma\u2019ruf Amin di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat siang (01\/07\/2016).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">KH Ma\u2019ruf mengecualikan, larangan takbir bisa diberlakukan jika untuk mencegah kemudharatan yang lebih besar. Seperti adanya kerawanan, mengganggu suasana dan berpotensi menciptakan konflik. \u201cSepanjang tidak menimbulkan kerawanan jangan ada larangan,\u201d tegasnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<div>Walaupun takbir keliling merupakan tradisi umat Islam dalam menyambut lebaran, tetapi jika di daerah tertentu ada kerawanan, MUI mengimbau agar masyarakat mematuhi larangan dari aparat setempat. Untuk wilayah rawan, menyambut lebaran tidak harus dengan melakukan takbir keliling.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>\u201cTapi di daerah yang biasa, tak ada kerawanan tetap bisa dilakukan takbir keliling,\u201d jelasnya.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Sebelumnya, saat menyampaikan poin-poin tausiyah MUI menyambut Idul Fitri 1437 H, Kyai Ma&#8217;ruf menyebutkan, MUI mengharapkan agar pemerintah khususnya kepolisian dapat menjamin keamanan dan kenyamanan umat Islam dalam merayakan Idul Fitri, baik pada saat perjalanan pergi dan pulang mudik, malam takbiran maupun pelaksanaan shalat Ieul Fitri baik yang di lapangan, masjid, surau maupun tempat lainnya.<\/div>\n<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Sumber : Posmetro<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta: Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta supaya tidak ada larangan takbir keliling menyambut Idul Fitri 1 Syawal 1437 H mendatang. Menurut MUI takbir keliling merupakan tradisi umat Islam Indonesia dan telah menjadi syiar menjelang lebaran.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1063,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-1062","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1062","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1062"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1062\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1062"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1062"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1062"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}